Notasylumseeker: Untuk para pencari suaka hati

/
0 Comments
Seorang pria meloloskan bayi dari bawah kawat berduri di perbatasan Hongaria-Serbia, tepatnya di Röszke, Hongaria, 28 Agustus 2015. Foto berjudul "Hope for a new life" karya Warren Richardson ini memenangi anugerah World Press Photo untuk kategori Spot News, Singles.

Saat keadaan tak lagi sama, perubahan drastis datang dalam hidup kita. Semua yang kita ketahui, yang kita jalani, yang kita percayai dengan harapan akan masa depan, semua sirna. Saat itulah, terombang-ambing dalam ketidakpastian (uncertainty), kita dihadapkan kepada pilihan-pilihan sulit. Sebagian dari kita mungkin memilih untuk bertahan dengan semua konsekuensinya. Sebagian lagi memilih melanjutkan langkah menuju hal-hal baru di luar zona lama.
Sekiranya itulah yang mengantarkan jutaan orang melintasi perbatasan negara-negara. Selain menjadi pengungsi, sebagian dari mereka mengajukan diri sebagai pencari suaka di negara-negara asing yang menurut mereka dapat memberi harapan memulai hidup baru dengan layak.
Istilah pengungsi (refugee) dan pencari suaka (asylum seeker) seringkali rancu digunakan. Menurut Konvensi PBB Tahun 1951 mengenai Status Pengungsi, definisi pengungsi adalah seseorang yang merasa takut akan dianiaya untuk alasan seperti ras, agama, kebangsaan, keanggotaan daripada kelompok sosial tertentu atau pendapat politik, yang berada di luar negara dari kebangsaannya dan tidak mampu atau, karena ketakutan tersebut, tidak ingin memperoleh perlindungan dari negara tersebut; atau orang yang, tidak memiliki kebangsaan dan berada di luar negara asalnya sebagai akibat dari suatu kejadian, tidak mampu, atau karena ketakutan tersebut, tidak ingin kembali ke negara tersebut. Status pengungsi membuat seseorang mendapat perlindungan dari negara lain atau entitas kemanusiaan internasional.
Sedangkan pencari suaka adalah pengungsi yang mengajukan perlindungan kepada negara lain yang statusnya belum ditentukan. Jadi pencari suaka adalah seseorang yang mengajukan diri sebagai pengungsi kepada negara lain di luar negara asalnya, namun masih menunggu keputusan dari negara tersebut mengenai statusnya. Digantung statusnya gitu...
Bicara mengenai pencari suaka, tentu sangat banyak contoh yang bisa diambil. Mulai dari para pengungsi Suriah di Eropa, manusia perahu di Australia hingga para jomblo pendamba cinta. Dengan tidak mengurangi rasa simpati saya terhadap perjuangan hidup para pencari suaka, saya akan menggunakan term pencari suaka ini untuk membahas para penggalau cinta, pengigau kasih sayang ini.
Buat kamu yang merasa terusir dari hati seseorang, tersiksa oleh sakit hati, terlunta-lunta di padang pengembaraan cinta, tentu sangat memahami apa arti sebuah tempat singgah yang nyaman dan prospektif bagi masa depan kalian.
Tempat baru yang menjanjikan harapan, peluang untuk menjalani masa depan yang lebih baik, sungguh sebuah tempat yang layak untuk kamu perjuangkan bukan?
Maka, tidak heran jika banyak dari kita yang bersusah payah menyeberangi lautan keras (mungkin persaingan keras), menerobos pagar-pagar perbatasan (mungkin juga perbatasan beda iman :P) hingga menggelandang di negeri orang (mungkin nginep di pom bensin demi mengunjungi pujaan hati yang di luar kota). Semua itu demi meraih kenyamanan baru yang menjanjikan. Bukankah perjuangan itu memang keras Bung?
Sebagai pencari suaka, statusmu memang menggantung. Diterima tidaknya dirimu sebagai pengungsi di hatinya tentu akan terkait dengan banyak pertimbangan. Apalagi usia sudah tidak lagi belasan, pertimbangan akan semakin banyak.
Beberapa negara, seperti Jerman, menghendaki pencari suaka memiliki keterampilan untuk mengisi kebutuhan industrinya yang dilanda penurunan tenaga kerja lokal. Demikian pula dengan kamu, harus punya sesuatu (kalau bisa banyak) yang menjanjikan juga buat negara yang kamu tuju.
Statusmu sebagai pencari suaka juga harus jelas. Jangan sampai kamu hanya memanfaatkan perhatian seseorang untuk menerimamu, padahal kamu sudah punya pasangan, apalagi pasangan yang sah, nah lo! Status yang menggantung dari mantanmu juga harus kamu perjelas. Tegaskan bahwa dirimu memang sudah tidak ingin kembali ke negaramu yang dulu. Jangan sampai kamu ditolak imigrasi karena asal-usul mu tidak memenuhi kriteria sebagai pencari suaka. Jangan-jangan dia menganggapmu cuma cari kesempatan mumpung lagi dekat diembat.
Jangan pula memaksakan diri untuk mencari suaka di negara yang telah (merasa) kelebihan kuota pengungsi. Sebuah negara yang sangat welcoming terhadap pengungsi dengan segala pesonanya tentu akan terus menarik banyak pengungsi untuk masuk. Seorang yang sangat menarik tentu akan memiliki banyak pencari suaka yang rela antre untuk dilayani mendapat kasih sayangnya. Jika dia sudah demikian, tinggalkanlah saja, apalagi dia sudah memiliki pengungsi yang sah di hatinya. Meskipun tampaknya dia seseorang yang hangat dan asyik, jelas dia tipe bunga penarik kumbang dan termasuk fasilitas publik. Masih mau? Belum lagi jika dia sudah memiliki pengungsi yang sah, silakan jika mau jadi perusak rumah tangga orang. Toh jikalau dipaksa, seperti Swedia, dia bisa menolak pencari suaka baru. Entah karena sudah insaf atau pasangannya ngancem cerai.
Statusmu sebagai pencari suaka tentu mengakrabkanmu dengan kerapuhan. Posisi tawarmu yang rendah (baca: labil) bisa saja dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengeruk keuntungan dari situasimu. Kisah para pencari suaka yang dimanfaatkan oleh jaringan penyelundup manusia perlu menjadikan waspada. Orang-orang seperti para predator jomblo yang hobi memanfaatkan kerapuhanmu demi kebutuhan lahir batin sangat banyak bertebaran. Pun pula teman yang berlagak menghibur padahal cuma pengen ditraktir makan dan diajak jalan-jalan, poles wae anune.

Jadi, jika kamu mengklaim diri sebagai pihak yang tertindas masa lalu dan ingin kehidupan baru yang penuh harapan di tahan terjanji, saya menyarankan hal-hal berikut:

  • Perjelas statusmu dan lengkapi persyaratan sebagai pencari suaka
  • Cari "negara" yang kemungkinan besar dapat menerimamu (pertimbangkan faktor-faktor pendukung dan penghambat sebuah hubungan jangka panjang misalnya)
  • Jadilah pencari suaka yang berkualitas, tunjukkan relevansimu bagi negara tujuanmu.
  • Waspada terhadap pihak-pihak yang memanfaatkan para pencari suaka sepertimu untuk kepentingan mereka
  • Sabar dan nikmati prosesnya, when life give you lemons, make lemonade out of it (kalau kamu dikasih belimbing wuluh, buat aja sayur asem)





You may also like

No comments:

Powered by Blogger.