Drama Final EURO 2016

/
0 Comments
#disclaimer: Saya bukan ahli sepakbola. Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai ulasan sepakbola agar tidak menjadi rancu.
That's it!
Saya bukanlah seorang yang hobi menonton pertandingan sepakbola. Dari satu musim, hampir tidak ada satu pun pertandingan liga yang saya tonton. Namun, jika ada kejuaraan antarnegara yang bergengsi saya menyempatkan diri untuk menonton. Mengapa demikian? Saya melihat bahwa pertandingan antar-tim nasional sangat menarik untuk ditonton. Para pemain turun dengan motivasi ekstra: nasionalisme. Mereka sejenak melepaskan diri dari gelimang materi klub-klub bergengsi. Lepas dari zona nyaman yang diberikan rekan-rekan bertalenta tinggi yang dibeli klub dengan harga tinggi pula. Asyik rasanya melihat para pemain timnas bermain dengan semangat juang bagai prajurit membela negara mereka di lapangan rumput.
Piala Eropa atau lebih populer disebut EURO (namanya sama dengan nama mata uang tunggal Uni Eropa) adalah kejuaraan sepakbola antarnegara di benua Eropa yang diselenggarakan oleh induk organisasi sepakbola Eropa (UEFA). Tahun 2016 ini EURO diselenggarakan di Perancis. Saya tertarik untuk membahas gelar juara EURO 2016 yang baru saja diraih Portugal dini hari tadi.
Portugal menjadi buah bibir karena kiprahnya yang tidak mengesankan di kejuaraan ini. Mereka tidak pernah menang dalam waktu normal (90 menit) sejak babak penyisihan hingga perempatfinal. Portugal baru menang dalam waktu normal saat jumpa Wales di semifinal (2-0). Rekam jejak ini membuat Portugal tidak diunggulkan saat menghadapi tuan rumah Perancis di babak final. Maklum, Perancis baru saja mengalahkan tim kuat Jerman 2-0 di babak semifinal. Materi pemain yang bagus dan status mereka sebagai tuan rumah membuat Perancis lebih diperhitungkan sebagai juara.
Jalannya pertandingan final sungguh menarik! Portugal awalnya lebih banyak menahan gempuran para pemain Perancis. Tuan rumah tampaknya akan terus mengurung Portugal dengan tempo permainan tinggi. Sampai ketika megabintang Portugal Cristiano Ronaldo ditubruk oleh Dimitri Payet hingga lututnya kepuntir (ouch!). Tak lama (sekitar menit ke 25), Ronaldo pun keluar lapangan dengan cucuran air mata. Kesempatannya untuk mempersembahkan gelar pertama bagi negaranya pun tampaknya sirna! Para penonton terdiam, permainan Portugal menjadi kehilangan gairah. Penonton di rumah pun tampaknya juga kehilangan gairah. Terbukti banyak teman saya yang tadinya mendukung Portugal menjadi diam di timeline. Bahkan beberapa ada yang memilih tidur saja. Kamu itu dukung Portugal atau Ronaldo e? #nohomo.
Sangkal putung do
Nyatanya Portugal mampu menahan imbang Perancis sampai babak pertama berakhir. Pada babak kedua, Portugal mulai bisa bangkit. Kehilangan sang megabintang di lapangan membuat semua anggota tim bekerja lebih keras. Portugal mampu membalas tekanan Perancis dengan serangan-serangan balik yang berbahaya. Meski masih kalah dalam penguasaan bola, para pemain Portugal tidak membiarkan Perancis memenangi laga. Ronaldo pun tak tinggal diam, dari pinggir lapangan dia membakar semangat rekan-rekannya.
Laga yang berlangsung sengit dan diwarnai banyak pelanggaran itu pun dihentikan pada waktu normal, masih tanpa gol dan pemenang. Lagi-lagi Portugal harus menjalani laga di babak waktu tambahan. Dengan kegigihan tinggi Portugal mampu memanfaatkan kondisi Perancis yang kelelahan karena terus menekan. Puncaknya adalah ketika pada babak kedua perpanjangan waktu (menit ke 109), Eder berhasil memanfaatkan longgarnya pertahanan Perancis. Tendangan keras dari jarak 20 meter pun tak sanggup dihadang Hugo Lloris. Para pemain dan fans Portugal histeris! Sisa waktu yang ada tak dapat membuat Perancis menggagalkan gelar juara Portugal! Selecao das Quinas pun dinobatkan sebagai kampiun sepakbola benua biru untuk pertama kalinya!
Beberapa pelajaran dapat kita petik dari kiprah Portugal kali ini:

Jangan risaukan pendapat orang
Kiprah Portugal sepanjang EURO 2016 tidaklah meyakinkan. Status favorit pun menjadi beban ketika performa tim tidak kunjung membaik. Kritik dan sinisme semakin banyak diarahkan kepada Portugal. Frustasi itu wajar, apalagi jika banyak orang berharap pada kita. Namun kita tidak perlu terlalu merisaukan pendapat orang jika hal itu tidak membawa kebaikan bagi kita. Terus berusaha memberikan yang terbaik adalah upaya kita untuk membungkam suara-suara miring! Jadikan kritik tersebut sebagai lecutan untuk lebih berprestasi!
Keluar dari zona nyaman
Ditariknya Cristiano Ronaldo pada menit ke 25 tak ayal membuat banyak orang terkejut dan patah hati. Betapa tidak, dia adalah ruh bagi setiap tim yang dibelanya. Terlebih bagi Portugal yang sangat bergantung kepada Ronaldo selama ini, sampai-sampai dijuluki Portunaldo. Sempat tertekan, Portugal akhirnya dapat bermain dengan baik. Kehilangan Ronaldo sebagai zona nyaman melecut semangat dan etos kerja tim untuk memberikan yang terbaik. Bahkan saya melihat ditariknya Ronaldo adalah titik balik bagi Portugal. Mereka bermain trengginas dan mencoba banyak strategi yang selama ini jarang dicoba karena terlalu Ronaldo-sentris. Tanpa mengurangi respek terhadap sang megabintang, terkadang ketika kita berada di luar zona nyaman, saat itulah kita diuji untuk melompati ekspekstasi.
Faktor B
Apa itu faktor B? Bejo! Portugal selama kejuaraan ini dianggap banyak mengalami keberuntungan. Dengan banyak hasil imbang, bermain hingga tambahan waktu bahkan adu penalti, tentu banyak yang beranggapan demikian. Bahkan banyak peluang Perancis di laga final pun gagal karena berbagai faktor, termasuk membentur tiang maupun mistar! Gol Eder pada menit 109 pun berbau bejo! Sunggu bejo! Apakah kita dapat bergantung pada faktor B ini? Tentu tidak! Bejo tidak datang dengan sendirinya dan tidak dapat diprediksi kehadirannya. Bejo adalah karunia yang harus diupayakan bukannya ditunggu. Bejo terjadi ketika persiapan bertemu dengan kesempatan!
Selamat untuk Portugal. Kalian telah membalikkan prediksi dan berhasil menjadi kampiun. Kalian telah membalik kutukan EURO 2004. Portugal kini adalah tim tak meyakinkan tapi juara dan Perancis adalah tuan rumah yang merana. 


You may also like

No comments:

Powered by Blogger.